3 Manfaat Memelihara Kucing bagi Kesehatan Mental, Bisa Bantu Redakan Stres

Ilustrasi memelihara kucing. (Foto: Getty Images)
SuaraNusa.com - Memelihara kucing bukan sekadar memberikan teman bermain di rumah. Kehadiran hewan berbulu ini juga dapat memberikan dukungan emosional, membantu mengurangi perasaan kesepian, dan membentuk rutinitas harian yang lebih teratur.
Interaksi sederhana seperti mengelus bulu kucing, bermain bersama, atau menyambutnya setelah pulang beraktivitas dapat menjadi momen menyenangkan yang membantu seseorang melepas penat.
Sejumlah temuan mengenai hubungan manusia dan hewan peliharaan juga menunjukkan bahwa banyak pemilik hewan merasakan manfaat bagi kondisi psikologis mereka.
Meski demikian, memelihara kucing bukan jaminan seseorang terbebas dari stres atau gangguan kesehatan mental. Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada kondisi dan pengalaman masing-masing.
Lantas, apa saja manfaat memelihara kucing bagi kesehatan mental?
1. Membantu Menghadapi Stres dan Masa Sulit
Kehadiran kucing dapat menjadi sumber dukungan emosional ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, kesedihan, atau kecemasan.
Survei yang dikaitkan dengan American Psychiatric Association dan American Veterinary Medical Association menunjukkan bahwa sekitar 84 persen pemilik hewan peliharaan merasakan perbaikan dalam kondisi psikologis sehari-hari. Sementara itu, sekitar dua pertiga responden menilai hewan peliharaan sangat penting untuk membantu menjaga pikiran tetap positif.
Psikiater Howard Liu, yang memimpin American Psychiatric Association’s Council on Communications dan Departemen Psikiatri UNMC, menjelaskan bahwa hubungan dengan hewan peliharaan dapat memberikan manfaat bagi sebagian orang, termasuk individu dengan gangguan spektrum autisme, riwayat trauma, kecemasan, maupun depresi.
Bermain bersama kucing juga dapat menjadi salah satu cara menghadapi emosi yang sulit. Aktivitas tersebut membantu sebagian orang mengalihkan perhatian sejenak dari pikiran negatif dan memberikan kesempatan untuk merasa lebih nyaman.
Namun, Liu mengingatkan bahwa manfaat ini tidak berlaku sama bagi setiap orang.
“Setiap orang dan setiap kucing itu unik, jadi memelihara hewan bukanlah jaminan kesehatan mental yang lebih baik,” kata Liu.
Karena itu, kucing sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber dukungan emosional, bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.
2. Menghadirkan Ketenangan dan Mengurangi Kesepian
Mengelus bulu kucing atau duduk bersama hewan peliharaan dapat menjadi aktivitas sederhana yang menghadirkan rasa nyaman. Bagi sebagian pemilik, interaksi tersebut membantu mereka merasa lebih tenang setelah menjalani hari yang melelahkan.
Hubungan dengan hewan peliharaan juga dapat memberikan rasa kedekatan dan persahabatan. Kehadiran kucing di rumah membuat seseorang memiliki teman untuk berinteraksi, meskipun tidak selalu melalui komunikasi verbal.
Howard Liu menyoroti bahwa kesepian dan isolasi sosial merupakan persoalan yang dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.
Memiliki kucing dapat membantu sebagian orang merasa lebih terhubung dan memiliki ikatan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Rutinitas bermain, memberi makan, serta merawatnya juga menciptakan kesempatan untuk berinteraksi secara teratur.
Meski demikian, memelihara kucing tidak otomatis menggantikan kebutuhan manusia untuk menjalin hubungan sosial dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar.
3. Membentuk Rutinitas Harian yang Lebih Teratur
Manfaat lain memelihara kucing adalah membantu membangun rutinitas. Kucing membutuhkan makanan, air bersih, kebersihan tempat tinggal, dan waktu bermain secara teratur.
Tanggung jawab tersebut dapat mendorong pemilik untuk menjalankan aktivitas harian dengan lebih konsisten.
Bagi seseorang yang sedang mengalami masa sulit, tugas sederhana seperti mengisi mangkuk makanan atau membersihkan kotak pasir dapat menjadi bagian dari rutinitas yang membantu menjaga keteraturan aktivitas.
Merawat hewan juga menumbuhkan rasa tanggung jawab karena ada makhluk hidup yang bergantung pada perhatian pemiliknya. Bagi sebagian orang, hal ini dapat memberikan dorongan untuk tetap menjalani aktivitas meskipun sedang menghadapi hari yang berat.
Liu menjelaskan bahwa keberadaan kucing dapat membantu seseorang merasa terhubung sekaligus memiliki rutinitas yang bermanfaat bagi pemilik dan hewan peliharaannya.
Meski begitu, rutinitas perawatan harus disesuaikan dengan kemampuan pemilik. Memelihara kucing juga membutuhkan komitmen waktu, tenaga, dan biaya agar kebutuhan hewan tetap terpenuhi.
Kucing Bisa Mendukung Kesehatan Mental, tetapi Bukan Pengganti Terapi
Berbagai pengalaman pemilik dan temuan survei menunjukkan bahwa hubungan dengan kucing dapat memberikan dukungan emosional, membantu mengurangi rasa kesepian, dan membangun rutinitas harian.
Namun, manfaat tersebut tidak boleh dimaknai sebagai jaminan bahwa memelihara kucing dapat menyembuhkan depresi, kecemasan, atau gangguan psikologis lainnya.
Jika seseorang mengalami tekanan emosional berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga kesehatan mental tetap penting. Kucing dapat menjadi teman dan sumber kenyamanan selama proses tersebut, tetapi tidak menggantikan konseling profesional maupun pengobatan yang diperlukan.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat dengan hewan peliharaan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan emosional. Dengan perawatan yang tepat dan perhatian terhadap kebutuhan kucing, interaksi sehari-hari bersama anabul dapat menghadirkan pengalaman positif bagi pemilik maupun hewannya.