Teknik Berbicara di Depan Umum

Ilustrasi publik speaking. (Foto: Dok. Istimewa)
Oleh: Alya Zaharatul Hasanah*
Tiga Unsur: Verbal, Vokal, Visual
Psikolog Albert Mehrabian dari University of California memperkenalkan konsep "3V" dalam komunikasi: verbal (apa yang dikatakan), vokal (bagaimana suara terdengar), dan visual (bagaimana pembicara tampil). Dalam penelitiannya, vokal menyumbang sekitar 38 persen pada persepsi audiens, jauh di atas kata-kata yang hanya 7 persen. Angka ini sering dikutip dalam pelatihan public speaking, meski perlu diingat bahwa temuan tersebut berkaitan dengan penyampaian perasaan dan sikap. Pesannya tetap relevan: suara adalah modal besar seorang pembicara.
Seperti apapun jenis suara yang dimiliki sama-sama memiliki potensi untuk menjadi suara yang baik asal dikelola dengan baik.
Mulai dari Napas
Fondasi teknik vokal adalah pernapasan. Pembicara dianjurkan memakai pernapasan diafragma atau pernapasan perut, yaitu perut bergerak keluar saat menarik napas dan kembali saat mengembuskan, bukan dada atau bahu yang naik-turun. Hasilnya, suara terdengar lebih dalam, bertenaga, dan tahan lama. Seorang pembicara idealnya mampu menjaga napas minimal 18 detik tanpa terputus. Latihannya sederhana, misalnya meniup lilin dari jarak satu meter berulang kali, lalu menarik napas dalam lewat hidung dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut sambil berdesis.
Delapan Unsur Lain yang Perlu Dikuasai
Selain pernapasan, ada sejumlah unsur yang menentukan kualitas suara:
- Artikulasi: Kejelasan pengucapan huruf, kata, dan kalimat.
- Intonasi: Intonasi adalah lagu kalimat. Intonasi membentuk makna kata atau kalimat. Intonasi merupakan tinggi rendahnya suara, irama suara atau alunan nada.
- Aksentuasi: Penekanan pada kata penting agar perhatian audiens terarah.
- Frasering: Pemenggalan kata dan kalimat yang tepat agar mudah dipahami.
- Power dan volume: Kekuatan dan kenyaringan suara yang disesuaikan dengan ukuran ruangan dan kualitas sound system. Suara harus terdengar jelas sampai kursi paling belakang.
- Infleksi: Naik-turunnya nada saat jeda dan saat berhenti.
- Tempo: Kecepatan bicara yang bervariasi. Kecepatan normal sekitar 125 kata per menit, dan sebaiknya melambat saat menyampaikan poin penting.
Latihan yang Bisa Dilakukan Siapa Saja
Materi olah vokal mencakup beberapa latihan yang mudah dilakukan. Latihan artikulasi dimulai dari melafalkan huruf vokal A, I, U, E, O dan konsonan seperti d, t, b, p, m, n, c, j, dan z, lalu mengucapkan kalimat yang sulit dilafalkan sebanyak 10 kali. Latihan kelancaran melatih pembicara membaca naskah dengan cepat dan mengubah-ubah kecepatan bicara, dengan patokan sekitar 125 kata per menit yang bisa diukur memakai stopwatch. Latihan intonasi menjaga nada tetap berganti agar tidak monoton, sedangkan latihan volume dilakukan dengan mengucapkan satu kalimat lima kali dengan suara makin keras, lalu makin pelan, tanpa mengubah nada. Latihan tempo melatih pembicara mengatur cepat-lambat ucapan untuk menekankan bagian penting, dan latihan warna suara dilakukan dengan mengulang satu kalimat memakai suara lebih besar, lebih kecil, parau, sengau, hingga suara nenek-nenek. Terakhir, napas diuji dengan mengucapkan satu kalimat panjang dalam satu tarikan napas, memakai suara diafragma yang bertenaga tanpa harus berteriak.
Kebiasaan yang Merusak Penampilan
Beberapa kebiasaan buruk sebaiknya dihindari yaitu malas membuka mulut, berbicara datar tanpa penekanan, kecepatan yang tidak teratur, penekanan kata yang salah, mengulang kata yang sama, dan mengisi jeda dengan "hmm", "ehh", atau "apa namanya". Kebiasaan-kebiasaan itu membuat pembicara tampak tidak siap dan audiens bingung.
Rileks juga penting. Pembicara yang tegang cenderung bersuara datar dan kehilangan tenaga, sehingga peregangan dan latihan napas sebelum tampil sangat membantu. Menulis naskah atau catatan ringkas pun layak dilakukan agar pembicaraan tetap terarah, seperti pembawa acara televisi yang memakai cue card. Dengan persiapan itu, pembicara akan tampak jujur, tulus, menyenangkan, dan meyakinkan.
Penutup
Berbicara di depan umum adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan bakat yang hanya dimiliki segelintir orang. Dengan napas yang terkontrol, artikulasi jelas, serta intonasi dan tempo yang bervariasi, siapa pun dapat membuat pesannya didengar, dan diingat.
***
*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Pamulang.
**) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi SuaraNusa.com