Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha

Edukasi Pencatatan Keuangan di UMKM Sasaran. (Foto: Dok. Istimewa)

SuaraNusa.com, Kediri
-  Suasana UMK di Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, terasa berbeda pada pertengahan Juli lalu. Bukan sekadar geliat usaha rumahan biasa, namun ada sentuhan baru yang membuat produk lokal tampil lebih percaya diri. Berkat tangan kreatif mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil IV, sembilan UMK di kawasan ini kini memiliki wajah baru: mulai dari logo, stiker, banner, hingga hadir di Google Maps dan WhatsApp Business.

Program bertajuk Peduli Usaha Mikro Kecil Pemberdayaan Masyarakat Vol. 2 ini bukan sekadar kegiatan rutin pengabdian masyarakat. Lebih dari itu, ia menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi kampus, pemerintah, dan UMK mampu menghadirkan perubahan yang relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Sebelumnya, banyak UMK di Ringinrejo belum memiliki identitas visual yang kuat. Produk rumahan seperti kerupuk gambir, pia, hingga jajanan tradisional kerap kalah pamor dengan produk modern hanya karena tampilan kemasan yang seadanya. Melalui program ini, mahasiswa FEB Unair membantu membuat 8 banner usaha, 3 stiker dan label baru, serta 1 logo usaha profesional.

Pemasangan Banner di UMKM Sasaran. (Foto: Dok. Istimewa)

Salah satu pelaku UMK bahkan menuturkan dengan penuh haru, “Terima kasih banyak, saya sangat terbantu. Hasilnya bagus dan menambah ketertarikan di penjualan. Semoga lancar selalu.”

Tak berhenti di branding, digitalisasi juga menjadi fokus utama. Sebanyak 3 UMK kini memiliki akun WhatsApp Business dengan e-katalog profesional, lengkap dengan foto produk, deskripsi, dan jam operasional. 9 titik lokasi usaha berhasil ditambahkan ke Google Maps, membuat UMK lebih mudah ditemukan konsumen baru.

Salah satu pemilik usaha berkata singkat namun penuh makna, “Matur nuwun, suka dengan katalognya. Semoga usaha semakin laris.”

Selain itu, mahasiswa juga membagikan 9 buku panduan penggunaan WhatsApp Business dan 9 buku catatan keuangan. Langkah sederhana ini menjadi bekal penting agar UMK lebih teratur dalam pencatatan arus kas dan lebih siap menghadapi tantangan pasar.

Tak hanya UMK, generasi muda pun disentuh lewat sosialisasi di SMAN 4 Kediri dan SMAN 1 Boyolangu. Sebanyak 109 siswa mengikuti pretest dan posttest tentang persaingan usaha sehat serta pengenalan FEB Unair. Hasilnya mengejutkan: 86 siswa memperoleh nilai sempurna 100 dalam posttest, membuktikan bahwa materi benar-benar terserap dengan baik.

Salah satu siswa bahkan menyampaikan, “Saya jadi tahu apa itu KPPU dan pentingnya persaingan usaha sehat. Rasanya kampus FEB Unair semakin menarik untuk jadi pilihan studi.”

Program ini menjadi bukti bahwa mahasiswa bukan hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata di lapangan. Dengan dukungan KPPU Kanwil IV, kegiatan ini mengajarkan pentingnya persaingan usaha sehat sekaligus meneguhkan posisi UMK sebagai motor ekonomi lokal.

Restika Neylan Drew Dzakiyya, salah satu mahasiswa pelaksana, menyampaikan, “Kami belajar banyak dari UMK. Bukan hanya soal bisnis, tapi juga ketekunan dan semangat mereka. Semoga program ini bisa terus berlanjut agar UMK semakin berdaya.”

Lebih jauh, program ini tidak hanya menyentuh aspek teknis UMK, tetapi juga berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan. Ketika pelaku usaha kecil dibantu agar lebih profesional dan siap bersaing, secara langsung mereka mendapatkan peluang untuk meningkatkan pendapatan, yang berarti sejalan dengan misi mengurangi kemiskinan. Edukasi yang diberikan kepada UMK dan siswa SMA menghadirkan kualitas pembelajaran baru di luar kelas, memperkaya pengetahuan mereka tentang digitalisasi, keuangan, dan persaingan usaha yang sehat.

Di sisi lain, UMK yang sebelumnya hanya mengandalkan cara konvensional kini bisa memasarkan produk dengan lebih modern. Hal ini menciptakan peluang kerja yang lebih layak sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dan yang tak kalah penting, keberhasilan program ini lahir dari kerja sama berbagai pihak mahasiswa, KPPU, sekolah, dan masyarakat yang merepresentasikan esensi dari kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.

Dari Ringinrejo, Kediri, lahir kisah inspiratif bagaimana UMK kecil bisa “naik kelas” melalui sentuhan branding dan digitalisasi. Harapannya, program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, memperluas jangkauan, dan melibatkan lebih banyak UMK di berbagai daerah.

Karena sejatinya, keberhasilan UMK bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang martabat masyarakat lokal yang semakin percaya diri menatap masa depan.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha
  • Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha
  • Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha
  • Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha
  • Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha
  • Mahasiswa FEB Unair dan KPPU Kanwil IV Hadirkan Branding Modern dan Digitalisasi Usaha